Sepertiga Data Dunia akan Tersimpan di Awan

0
359

Jumlah keseluruhan data elektronik dunia telah meningkat secara eksponensial dalam beberapa tahun terakhir. Fakta menunjukkan jumlahnya telah mencapai skala Zetabytes (ZB).

Perlu diketahui, satu ZB itu setara dengan satu miliar Terabytes. Pada tahun 2009 lalu saja, data yang dikumpulkan manusia sebesar 0.8 ZB. Sementara pada 2015 ini, jumlah tersebut diperkirakan mencapai sepuluh kali lipatnya, 8 ZB.

Dan pada tahun 2020 mendatang, analis memperkirakan angka tersebut akan tumbuh menjadi 35 ZB. Jumlah itu 44 kali dari volume data yang kita miliki 11 tahun sebelumnya di tahun 2009.

“Pada tahun 2020 diperkirakan juga bahwa lebih dari sepertiga data yang dihasilkan di seluruh dunia akan disimpan atau dikirim melalui cloud,” kata Mark Bentkower, Director of Enterprise Solutions Asia Pacific, CommVault Systems, dalam emailnya kepada detikINET, Rabu (11/3/2015).

Perusahaan di ASEAN termasuk Indonesia juga tak luput dari tren ini, bahkan perkiraan pertumbuhan data mereka akan sangat mencengangkan, yaitu pada kisaran 20%-50% per tahun. Bahkan 17% analis mengatakan, pertumbuhannya akan melampaui 50%.

Perubahan pesat dalam teknologi yang kita gunakan untuk menyimpan, mengakses, dan mengarahkan data secara efektif telah menjadi amat penting bagi organisasi yang ingin tetap kompetitif tanpa harus menanggung biaya penyimpanan yang tidak terkendali.

Organisasi sedang beralih ke virtualisasi dan memanfaatkan layanan cloud baik untuk komputasi maupun dan penyimpanan, sebagai cara untuk menekan biaya sambil tetap menjamin ketersediaan dan integritas data. Namun, meskipun virtualisasi dapat menghilangkan kompleksitas dan biaya infrastruktur fisik, menyimpan data dalam mesin virtual dan dalam cloud dapat memunculkan isu keamanan data.

Cloud dan virtualisasi

Semakin banyak perusahaan yang mengkonsolidasikan infrastruktur TI mereka ke cloud swasta dan publik. Gartner bahkan memperkirakan layanan cloud publik akan tumbuh menjadi senilai USD 137 miliar dengan pertumbuhan tiap tahunnya (CAGR) sebesar 16,9% pada 2017.

“Sementara kapasitas cloud swasta diperkirakan akan mendominasi kapasitas penyimpanan global sebesar 1,5 kali atau 40% hingga 60%,” kata Bentkower.

Faktor-faktor yang meringankan pengadopsian cloud adalah biaya dan kompleksitas dalam mengelola perangkat keras dan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengendalikan ledakan data — yang sebagian besar masih berjalan pada infrastruktur sebelumnya.

Virtualisasi adalah pengubah aturan permainan bagi organisasi dalam mengadopsi cloud sebagai platform dan/atau sebagai lingkungan penyimpanan. Keuntungan yang diberikan virtualisasi server menarik, mulai dari karena manfaat yang ditawarkannya berupa penghematan biaya melalui fleksibilitas bisnis, dan kelincahan yang melekat pada arsitektur cloud private dan publik.

“Namun, menurut sebuah studi global, hampir 9 dari 10 manajer TI percaya bahwa manajemen mesin virtual berisiko tanpa perencanaan yang tepat,” pungkas bos CommVault Systems.

 

Sumber : http://inet.detik.com/read/2015/03/11/100422/2855267/328/1/sepertiga-data-dunia-akan-tersimpan-di-awan

LEAVE A REPLY